Posted by rampak naong - - 3 komentar



Membaca media online soal LPI/Laskar Pembela Islam pamekasan yang melakukan sweeping tempat prostitusi hingga memicu bentrok dengan warga (diberitakan yang membackingi), saya tidak kaget. Di samping karena beban sejarah, kasus yang terjadi di kota Gerbang Salam ini menjadi penanda rumitnya tarik ulur formalisasi Syariah Islam yang dipolitisasi (kekuataan-kekuatan politik) di satu sisi, dan diimaginasikan serta dipertarungkan dalam medan sosial-politik oleh massa pendukungnya di sisi lain.  Inilah keunikan Pamekasan.

Pamekasan dibanding 3 kabupaten lain di Madura memang unik. Nalar keberagamaan di kota ini lebih "heroik". Ia terbentuk dalam rentang kesejarahan yang panjang. SI dulu pernah kuat di kota ini dan pengaruhnya
Membaca media online soal LPI/Laskar Pembela Islam pamekasan yang melakukan sweeping tempat prostitusi hingga memicu bentrok dengan warga (diberitakan yang membackingi), saya tidak kaget. Di samping karena beban sejarah, kasus yang terjadi di kota Gerbang Salam ini menjadi penanda rumitnya tarik ulur formalisasi Syariah Islam yang dipolitisasi (kekuataan-kekuatan politik) di satu sisi, dan diimaginasikan serta dipertarungkan dalam medan sosial-politik oleh massa pendukungnya di sisi lain.  Inilah keunikan Pamekasan.

Pamekasan dibanding 3 kabupaten lain di Madura memang unik. Nalar keberagamaan di kota ini lebih "heroik". Ia terbentuk dalam rentang kesejarahan yang panjang. SI dulu pernah kuat di kota ini dan pengaruhnya masih terasa hingga kini terutama soal memposisikan Islam sebagai ideologi, yang dalam bentuknya sekarang melahirkan perda syariah.

Menurut Kuntowidjoyo (2002), awalnya SI di Madura terbentuk di Sampang pada tahun 1913. Pendirinya adalah Mas Gondosasmito alias Haji Syadzili. Selanjutnya pada tahun yang sama dibuka Cabang SI di Pulau Sepudi, Sumenep. Di pulau ini jejaknya hingga sekarang masih terlihat, setidaknya sebagian warga masih kuat afiliasinya dengan kelompok modernis.

Di Pamekasan, SI terbentuk tahun 1914. Di Kabupaten ini cabang SI ada dua, satu berpusat di kota pemakesan sendiri, satunya di Kecamatan Duko. Tahun yang sama juga di buka Cabang SI Bangkalan.

Dulu SI Pulau sepudi pernah melakukan gerakan anti-China dengan memboikot aktivitas perdagangan mereka. Juga menyerang aspek tradisi lokal, hingga menculik pesinden dari pesta yang disponsori pemerintah Hindia Belanda. Anehnya, gerakan ini oleh Kunto dalam bukunya dianggap gerakan sosial tanpa cela, bahkan Kunto menyebut dulu tak ada kekuatan lain selain SI dalam mengkonsolidasi warga dalam melakukan gerakan sosial. Kunto tak melihat serangan SI terhadap tradisi justru mengeksklusi kelompok tradisi(onal) dan membuat polarisasi gerakan perlawanan terhadap Belanda.

Sepertinya kasus di Sepudi hampir serupa dengan kasus yang beberapa hari lalu terjadi di pamekasan. Kira-kira gambaranya kesel sama pemerintah, tapi yang diserang sipil. Tetapi poinnya, gerakan keagamaan di Pamekasan akhir-akhir ini seperti memanggul beban sejarah, mau menuntaskan agenda SI dulu dalam bentuk yang sepenuhnya tidak sama meski dalam substansi yang tidak jauh beda.

Apalagi, sisa ideologi SI diracik dengan unsur baru yang belakangan ini (di)datang(kan) dari Jakarta, hingga nalar keberagamaannya tidak saja keras dalam tataran ideologis, tapi juga dalam metodenya. Sejarah SI dulu bertemu dengan unsur baru (tetapi sebenarnya lama) yang  (di)datang(kan) itu dan menjadikan nalar keberagamaan di kota ini lebih "greng", militan, dan rada keras.

Kalau mau jujur, kata kunci dari meluasnya distribusi gerakan militan berbasis agama ke kabupaten lainnya  bersumber dari kota ini. Kasus Syi'ah di Sampang di tahun 2010/11 juga dipengaruhi model gerakan di pamekasan. Terakhir, gerakan mobilisasi 212 di kabupaten lain juga berawal dari kota ini.

Menarik dilihat bagaimana pertumbuhan gerakan militan berbasis agama di Pamekasan ke depan, lebih-lebih jelang pilkada. Saya mengamati eskalasi kelompok militan akan makin menguat ke depan.

Tulisan ini sekedar clotehan yang  miskin data dan analisis. Mohon maaf bagi yang gak berkenan

Pulau Garam l 22 Januari 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Kasus NYIA di Kulonprogo dimana warga dipaksa untuk mengosongkan kampungnya makin memperpanjang konflik agraria di negeri ini. Negara, dengan segenap aparatusnya,  yang seharusnya hadir memartabatkan keadilan bagi rakyat justru mempertontonkan sikap sebaliknya. Negara lebih berfungsi sebagai panggung bagi kepentingan pemodal. Bahkan kadang menjalankan kepentingan modal sendiri, meski harus menguliti keadilan bagi rakyatnya.

Persoalan agraria makin mempertajam ketimpangan di negeri ini. Melihat data ketimpangan sungguh sangat mengerikan. Dalam Munas NU di Lombok baru-baru ini merilis bahwa, " Kekayaan dimonopoli segelintir orang yang menguasai lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan, dan obligasi pemerintah. Menurut World Bank (2015), Indonesia adalah negara ranking ketiga tertimpang setelah Rusia dan Thailand. Gini rasio mencapai 0,39 dan indeks gini penguasaan tanah mencapai 0,64. 1% orang terkaya menguasai 50,3 persen kekayaan nasional, 0,1% pemilik rekening menguasai 55,7% simpanan uang di bank. Sekitar 16 juta hektar tanah dikuasai 2.178 perusahaan perkebunan, 5,1 juta hektar di antaranya dikuasai 25 perusahaan sawit. Jumlah petani susut dari 31 juta keluarga tani menjadi 26 juta, dua pertiganya adalah petani yang terpuruk karena penyusutan lahan dan hancurnya infrastruktur pertanian. 15,57 juta petani tidak punya lahan".

Persoalan agraria saat ini juga menjadi persoalan krusial di Sumenep dua tahun belakangan ini. Sejak akhir tahun 2015/awal 2016 ratusan hektar lahan di Kabupaten Sumenep  sudah dikuasai investor. Hingga detik ini penguasaan lahan baru dan upaya menguasai lahan baru oleh investor terus berlanjut, terutama di pesisir utara, misalnya di Lombang dan Badur, dua kawasan wisata yang ada di Sumenep. Begitu juga upaya penguasaan lahan baru menyasar di lokasi wisata lainya semisal di pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek.

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya atau banyak liputan media, lahan-lahan itu dialihfungsikan menjadi tambak udang. Tercatat ada 4 tambak udang yang diberi ijin oleh pemda, meski alih fungsi lahan tersebut jelas-jelas menyalahi perda RTRW. Sementara lahan-lahan lain dibiarkan bisa jadi karena belum jelas peruntukannya atau belum keluar ijinnya. Yang pasti di lahan-lahan itu suatu saat akan dibangun entah tambak atau infrastruktur pariwisata yang akan dicanangkan secara massif tahun 2018 ini.

Habisnya lahan di Kabupaten Sumenep, tanpa menafikan yang pro, menuai tanggapan kritis dari banyak kalangan, termasuk kiai sepuh. Pernah di hadapan Kades di Pendopo Kabupaten Sumenep tanggal 18 Juli 2016, Almarhum KH. Basyir AS dan KH. Thaifur Ali Wafa mewanti-wanti agar lahan-lahan tidak dijual kepada investor luar. Pertemuan ini digagas oleh pemda yang justru pada saat bersamaan membiarkan lahan rakat tak dilindungi dan mempermudah proses alih fungsi lahan.

Dalam salah satu pertemuan, KH. Ma'ruf, Rois Syuriah MWC NU Gapura menyebut bahwa penguasaan lahan dengan membangun industri hari ini  tidak beda dengan VOC yang dulu datang untuk maksud berdagang, tetapi pada akhirnya menjajah. Satu sindiran bagi kita agar kuat iman terhadap rayuan untuk melepas lahan. Dan sindirin juga bagi investor dan penguasa yang selalu meneriakkan "pembangunan" meski kita tidak jelas secara sfesifik untuk kepentingan siapakah sebenarnya pembangunan itu.

KH Muhammad Shalahuddin yang akrab dipanggil Kiai mamak menyebut bahwa penguasaan lahan sepanjang pesisir adalah bentuk kekalahan Madura secara geo-politik dan geo-ekonomi. Penguasaan lahan sepanjang pesisir oleh investor menunjukkan kecerdasan geo-strategi lawan dalam rangka menguasai Madura. Menurut beliau, siapapun yang menguasai pesisir di masa depan akan menang secara geo-politik. Beliau melukiskan penguasan Madura melalui pesisirnya ibarat orang makan bubur, tinggal menunggu saja lambat laun penguasan  lahan akan terus beranjak ke tengah. Suatu waktu Madura akan habis tersapu.

Ketika Hari Santri, 22 November 2017 kemarin, PCNU Sumenep juga sudah mengeluarkan maklumat agar pemda segera mencari jalan keluar secara serius untuk melindungi lahan-lahan, terutama lahan pertanian produktif dan kawasan konservasi agar para investor tidak semena-mena menguasai lahan. PCNU juga mengingatkan pemerintah daerah agar pembangunan yang dilakukan mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi-budaya masyarakat dan mempertimbangkan madharatnya di masa depan.

Tidak hanya maklumat, melalui Lembaga Bahsul Masail (LBM) yang didasarkan atas informasi masyarakat soal jual-beli lahan yang dilakukan investor berlangsung dalam kondisi "tidak ada unsur sukarela" maka jual-beli tersebut dihukumi haram meski jual belinya sah. Persisnya keputusan LBM seperti ini, "HARAM manakala ada unsur tadlīs (penipuan), khiyānah (dusta) dan dharār (merugikan), tetapi jual belinya sah. Jika jual belinya mengandung unsur ikrāh (pemaksaan) bighairi haqqin (tanpa alasan yang dibenarkan), maka hukum jual belinya TIDAK SAH".

Dalam banyak kasus, pelepasan lahan melibatkan jaringan kekuasaan yang ikut membantu menertibkan pikiran si pemilik lahan hingga terpojok dalam kondisi tak berdaya. Modal dan kuasa jika bersekutu, tak mudah dalam faktanya ditundukkan. Daya libasnya lebih kuat ketimbang kekuasaan pemilik lahan.

Secara kebudayaan penguasaan lahan yang nanti peruntukannya untuk industri diyakini akan menggerus tradisi dan kearifan Madura. Desa sebagai lumbung tradisi akan dihujani nilai-nilai industri yang sangat impersonal dan material. Gotong royong, relasi sosial, keikhlasan, kesetiakawanan, kekerabatan akan pudar tergantikan oleh kehidupan yang makin individualistik, cerai-berai, transaksional, dan penuh pamrih. Rakyat menghadapi setidak-tidaknya tiga hal, secara ekonomi dipangkas, secara sosial diceraiberaikan, dan secara budaya dikeringkan. Wallahu A'lam.

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 2 Januari 2018
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Jumat malam (17/11) pukul 19.30-23.30 sekitar 40 orang kebanyakan anak muda ngobrol di KancaKonaKopi Sumenep menyoal Visit Sumenep Year (VSY) 2018. Hadir sebagai pemantik obrolan, redaksi majalah fajar yang edisi ini memang mengangkat laporan utama soal VSY,  kyai Muhammad Zammiel Muttaqin dari pesantren guluk-guluk, mas Syaf Anton budayawan Sumenep, dan saya sendiri. Obrolannya menarik. Ditemani kopi yang racikan dan jenisnya macam-macam, obrolan yang santai ini justru menjadi tidak santai alias serius karena obrolannya bernada "menggugat", VSY yang dicanangkan pemerintah daerah Sumenep dalam obrolan disebut hanya "visit-visitan".

Mas Anton mengumpamakan VSY ibarat orang menjual pete' (anak ayam) yang ditaruh di karung sangat besar dengan publikasi besar. Pas orang yang mau beli lihat ayamnya, "  eh...ternyata cuma pete' ". Jadi, cuma lebih besar publikasinya karena memang VSY tak dipersiapkan dengan matang.  Ini baru soal persiapannya, belum lainnya.

Lain dengan kiai miming, VSY menurut beliau ditamsilkan seperti umrah yang justru menggantikan haji yang wajib. Seolah dengan VSY, ekonomi rakyat akan membaik. Pada hal menurut beliau, VSY telah memalingkan tanggungjawab pemerintah untuk memikirkan hal yang wajib misalnya, nelayan dengan hasil lautnya, petani dengan hasil kekayaan alamnya, termasuk garam dan potensi lainnya. Menurut kiai miming, pandangan seperti ini merupakan wujud dari kemalasan berfikir. Dengan nada kritis kiai miming mengajukan pertanyaan, "pekerjaan pemerintah sebenarnya apa sih?"

Makanya VSY tidak jelas untuk kepentingan siapa. Tak perlu mengatakan bahwa VSY untuk kepentingan rakyat. VSY hanya untuk kepentingan pemodal atau kelompok yang memperoleh untung dari relasinya dengan pemodal. Wajar jika sejak awal rakyat terutama di lokasi wisata tidak pernah dilibatkan dalam perumusan master plan pariwisata. Master plan pariwisata dibuat oleh sekelompok orang, entah atas nama expert, yang dicocokkan dengan kepentingan para pemodal. Tidak aneh jika master plan pariwisata hingga detik ini tak pernah disosialisikan kepada publik.

Sejatinya jika mau serius, VSY dirumuskan dalam kerangka mendukung tugas wajib pemerintah daerah, bukan menggantikanya. Tugas wajib pemerintah tetap mengurusi secara serius nelayan dan petani yang merupakan populasi terbesar rakyat Sumenep. Sementara VSY didesain untuk mendukung tugas wajib ini. Menjadi jungkir balik, jika pemerintah mengurus secara serius VSY , tapi abai terhadap petani dan nelayannya.

Jika demikian, VSY sejatinya diintegrasikan dengan potensi yang dihasilkan nelayan dan petani. Misalnya, kebutuhan kuliner para wisatawan dirancang betul bagaimana terintegrasi dengan nelayan dan petani yang menghasilkan ikan dan bahan makanan. Tapi sayang dalam amatan kiai miming, di dekat hotel yang bertebaran di Sumenep saja soal kuliner ini tak dikelola baik. Ini baru soal kuliner.

Demikian pula soal transportasi, kuliner, homestay dan cendera mata terutama di lokasi pariwisata harus diserahkan kepada rakyat. Jika tidak, dipastikan investor mengambil alih. Tapi sayang, karena saat ini master plan pariwisata tidak dipublikasikan, diragukan pariwisata berbasis rakyat akan menjadi arus utama kebijakan pemerintah.

Saya menengarai ada tiga arus kebijakan pariwisata yang bertarung di tubuh pemerintah. Pertama, yang menghendaki pariwisata dikelola oleh rakyat. Arus ini lemah dan tak banyak pendukungnya. Di samping desain pariwisata berbasis rakyat belum jelas, seperti apa "blue print"nya.

Kedua, arus yang menghendaki pariwisata dikelola BUMD/BUMDES. Gagasan ini seolah bagus ditengah kencangnya privatisasi, meski bagi saya tata kelola yang buruk dan kepemilikan yang sepenuhnya dimiliki  "pemerintah" bisa menjadikan BUMD/BUMDES dijalankan dengan sangat kapitalistik.

Ketiga, arus yang menghendaki pariwisata diserahkan kepada swasta/investor. Nampaknya arus ketiga inilah yang paling kuat. Terbukti beberapa kali di media ada berita pemda menawarkan potensi pariwisata kepada investor, termasuk investor asing, seperti Turki dan Arab Saudi. Jika yang ketiga betul-betul terjadi, maka tamat wacana pemerintah sendiri yang selalu menghubungkan pariwisata dengan kesejahteraan rakyat.

Pariwisata meski seksi, bukan berarti tak mengundang petaka. Akan banyak masalah yang akan muncul, setidaknya yang mengemuka di forum sebagai berikut :

# Kebudayaan Madura akan tergerus. Secara lahiriah, tradisi dan keseniannya akan diawetkan tetapi rohnya dicabut hanya sekedar untuk dipertontonkan kepada pelancong. Cara pandang orang Madura yang menyukai keseimbangan dunia-akhirat, akan termaterialisasi dan hanya berorientasi duniawi. Pariwisata yang membawa nilai-nilai "have fun", senang-senang, serta spirit kebebasan dan hiburan akan menjadikan  pergaulan anak muda makin berjarak dengan kebudayaannya sendiri. Kita harus akui, pariwisata dimanapun selalu tersadera sama bisnis gelap, sex dan narkoba. Belum lagi nasib bahasa Madura yang akan semakin terpinggirkan.

#Jika pariwisata yang dikembangkan ramah bagi investor tentu akan lebih membawa petaka yang makin berat, karena lahan-lahan terutama di lokasi pariwisata akan dijarah investor. Pengakuan bapak Sahlan, warga Pulau Giliyang, bahwa tanahnya dekat spot oksigen ditawar 2 milyar bisa menjadi ilustrasi bagaimana investor dengan rakusnya menyasar lahan-lahan di lokasi wisata. Untungnya pak sahlan kukuh tak melepas lahannya. Maka ke depan akibat VSY akan terjadi petaka yang saling melengkapi, tanah dihabisi dan kebudayaan serta tradisi Madura akan dicerabut. Sungguh, bentuk petaka yang sempurna.

Meski dalam obrolan di kancakonakopi berkembang sikap tak percaya sama pemerintah dan sesegera mungkin rakyat bangkit membangun konsolidasi dan mengurus ekonominya berbasis kooperasi, saya tetap mengharap pemda mendengar obrolan ini. HATI-HATI MENGELOLA VISIT SUMENEP YEAR. SALAH KELOLA, KITA AKAN MENUAI PETAKA. TIDAK SAJA TANAHNYA DAN SEGENAP YANG DIKANDUNGNYA AKAN HABIS, TAPI JUGA BUDAYANYA, TRADISINYA, GENERASINYA, DAN BAHKAN MASA DEPAN SUMENEP AKAN MUSNAH TINGGAL CERITA.

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 23 November 2017






[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


Setiap kali ada kyai sepuh di kampung yang tekun membangun kesalehan spiritual dan sosial wafat, selalu ada kegelisahan menyelusup di dada. Ketiadaan mereka terkadang menjadikan kehidupan berjalan secara tidak seimbang. Oleng kiri, oleng kanan. Apalagi di tengah kehidupan yang makin gaduh saat ini, baik oleh fundamentalimse agama maupun fundamentalisme pasar yang taringnya menyasar ke desa-desa.

Kyai sepuh bagi saya seolah "pakona dunnya" (paku bumi) yang menjadikan kehidupan dunia berjalan seimbang. Mereka tanpa pamrih  membangun masyarakat Islam, menurut istilah gus dur, dengan menekankan kehidupan penuh keadaban atau akhlak al karimah. Dalam "kompolan" atau lailatul ijtima' tempat mereka mendidik maeyarakat, tak ada pernyataan atau mimpi membangun negara dalam negara, seperti gagasan khilafah misalnya. Yang ditekankan adalah bagaimana menjadi hamba yang baik  hubungannya dengan Pencipta dan sesama dengan mendasarkan diri pada missi kenabian, akhlak al karimah.

Pagi itu, saya memperoleh kabar, guru saya, KH. Moh. Rifa'ie dalam kondisi sakit keras dan dirawat di Puskesmas di Kecamatan saya. Istri saya berangkat duluan membezuknya. Setelah pulang, istri membenarkan bahwa kondisi beliau ibarat menunggu mukjizat untuk pulih.

Jelang waktu dhuhur, saya pun berangkat bersama ketua MWC NU ke puskesmas. Telat. Ternyata beliau sudah dibawa pulang ke rumah beliau, tak jauh dari puskesmas. Kami mengejarnya ke ruman beliau.

Di rumah beliau sudah banyak orang yang menungguinya. Sekedar untuk melihat wajah beliau kami tidak bisa, karena banyak orang mengelilingi tempat beliau direbahkan. Ini menunjukkan bahwa beliau dicintai banyak orang. Kami menunggu di beranda, sampai akhirnya ada yang keluar dari dalam rumah dan meyakinkan bahwa beliau sudah menghadap Allah SWT. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Saya mengenal beliau sejak kecil, sebelum saya masuk MI tahun 1975 di kampung saya. Apalagi beliau memang dekat dengan ayah saya. Dan sejak MI di kampung saya berdiri tahun 1963, beliau sudah mengajar di sana. Beliau juga termasuk aktivis Ansor bersama paman saya, terutama pada masa-masa sulit pada tahun 1965/66. Hingga wafat, beliau masih tercatat sebagai mustasyar MWC NU Gapura Sumenep.

Satu hal yang kami saksikan, beliau begitu peduli pada pendidikan madrasah. Hingga 2016 beliau masih mengajar di MTs Nasy'atul Muta'allimin. Karena faktor kesehatan beliau kemudian pamit, meski kepada guru beliau bilang, ingin sekali wafat di saat mengajar.

Saya memperoleh didikan langsung dari beliau ketika di MI dan MTs. Beliau mengajar IPA. Seingat saya beliau memang tidak mengajar di luar pelajaran itu. Meski mengajar ilmu eksak, di setiap pelajaran beliau piawai mengutip ayat-ayat Alqur'an dan dikontekstualisasikan dengan pelajaran IPA. Salah satu contoh, sebagaimana kesaksian Khairul Umam,  ketika beliau menerangkan cahaya yang dikaitan dengan cahaya kunang-kunang. Setelah itu beliau sampaikan ayat dan menerangkan antara cahaya, listrik dan kekuasaan Allah. Kepiawaian seperti ini jarang saya temukan pada guru lainnnya.

Beliau adalah guru yang sangat sederhana. Sejak kenal beliau mulai kanak-kanak hingga saya punya anak tak ada yang berubah, kemana-mana termasuk ketika mengajar beliau naik sepeda ontel tua. Pernah punya motor, tapi cuma hitungan bulan, karena motor beliau, kalau tidak salah, disukai alias dicuri maling. Setelah itu beliau setia ngontel.

Soal waktu , beliau sangat disiplin. Mau ngajar, rapat, undangan beliau tidak pernah lambat. Jika jam 7, beberapa menit sebelum jam 7 beliau sudah datang. Pernah ketika kelas 3 MTs, teman saya selalu datang lambat ke madrasah. Beliau tidak pernah marah, paling cuma ditanyakan alasan kenapa lambat. Teman saya bilang, "membantu orang tua pak".  Besoknya teman saya lambat lagi, tanpa bertanya beliau bilang dengan sabar, "bantu orang tua lagi ya?" Setelah itu, teman saya kapok dan tidak pernah lambat lagi.

Di samping menjadi pengajar formal, beliau juga menjadi pendidik masyarakat. Beliau memimpin lailatul ijtima' atau kompolan dalam istilah Madura. Sebagaimana biasa yang dilakukan para kyai, beliau  menyapa langsung warga dan memahami masalah yang dihadapinya melalui kompolan itu.

Beliau lahir pada tahun 1941 dan wafat dalam usia 76, pada hari kamis, 9 November sekitar jam 11.30. Banyak sekali orang menshalatkan, termasuk murid-muridnya yang sejak dulu hingga sekarang pernah dididik beliau menyatu dalam kedukaan yang mendalam. Allahummagfirlahu warhamhu. Selamat jalan guru.

Setiap kali ada kyai sepuh di kampung yang tekun membangun kesalehan spiritual dan sosial wafat, selalu ada kegelisahan menyelusup di dada. Semoga kami, muridmu, mampu meneladaninya.

Pulau Garam l 13 November 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Saya punya ponakan sepupu. Dulu ia kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Malang. Tahun 1998 ketika pak Harto tumbang, semua mahasiswa senang. Pemimpin yang otoriter dan berkuasa selama 32 tahun itu memang dibenci banyak orang, apalagi mahasiswa.

Justru di saat banyak orang membenci pak Harto yang mulai lemah dan sakit-sakitan, Gus Dur yang dianggap sebagai  tokoh reformasi, malah mendatanginya. Kedatangan Gus Dur itu banyak menuai protes orang, termasuk ponakan saya. Foto Gus Dur yang ia temui di lantai ia tendang sambil berucap, " ini nih .. kyai yang bikin bingung orang".

Beberapa hari setelah kejadian itu ia bermimpi. Dalam mimpinya ada Almaghfurlah KH As'ad Syamsul Arifin, Almaghfurlah KH Sufyan, Gus Dur sendiri, dan KH. Chalil As'ad.

"Kyai Sufyan, tolong buka mulut Gus dur," perintah kyai As'ad pada kyai Sufyan. Kyai Sufyan dengan tanganya membentang lisan Gus Dur lebar-lebar.

"Chalil, tolong anak ini pegang lehernya dan masukkan kepalanya ke mulut Gus Dur", perintah kyai As'ad kepada kyai Chalil. Kyai chalil memegang leher ponakan saya dan memasukkan kepalanya ke lisan Gus Dur. Selama berada di dalam lisan Gus Dur, ia seperti merekam kehidupan lain, termasuk gambaran di alam kubur. Setelah itu ia bangun dari tidurnya dengan perasaan yang tidak tenang dan gelisah. Tapi ia yakin kejadian itu berhubungan dengan kurang ajarnya dia terhadap gus dur. Ia sangat menyesal. Sejak saat itu ia meminta maaf kepada Gus Dur dengan cara. membeli semua buku tentang Gus Dur.

Kejadian tak masuk akal terus berlanjut. Ketika Gus Dur menjadi presiden, tahun 2001 Gus Dur datang ke kampusnya di Malang. Pas hari kedatangannya, ia pun berjejer di tengah ribuan orang yang akan menyambut Gus Dur di jalan yang dilalui mobilnya.

Keanehan terjadi. Ketika mobil Gus Dur memasuki kampus dengan penjagaan paspampres dan keamanan yang sangat ketat, dari jendela mobil yang terbuka Gus Dur melambaikan tangan seperti memanggilnya. Ia pun menoleh kiri-kanan, karena tak yakin lambaian Gus Dur untuknya.

Tapi karena tidak ada yang bereaksi, akhirnya ia maju ke depan menerobos keamanan super ketat, dan anehnya begitu mudahnya,  hingga ia tiba di sisi mobil Gus Dur. Gus Dur menjulurkan tangan dan ponakan saya dengan sangat senangnya mencium tangan Gus Dur sambil berkaca-kaca. Kecuali ponakan saya, tak ada orang lain yang bisa bersalaman dengan Gus Dur, karena tak ada yang bisa menembus ketatnya pengamanan.

Alfatihah...

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 1 komentar




Ke Giliyang di bulan Agustus terasa berbeda. Ombaknya sangat besar. "Asapo' angin abantal omba' (berselimut angin, berbantal ombak), begitu ungkapan orang Madura. Setiap kali melihat ombak setinggi gunung menggulung perahu, setiap itu pula perasaan ciut muncul. "Biar selamat, yang banyak baca shalawat", kata Haji Basit, 67 th, tetangga saya yang juga ikut rombongan. Watak manusia seperti saya, baru ingat Tuhan jika marabahaya menghadang.

Kami rombongan Kompolan Tera' Bulan datang kedua kalinya ke pulau  yang sekarang dikenal sebagai tujuan wisata karena kualitas oksigennya yang bagus. Bersama KH Muhammad Shalahuddin yang akrab dikenal kyai Mamak, Kompolan Tera' Bulan diundang secara khusus oleh Kyai Irsono dan istri yang mau berangkat haji bulan ini. Ya, ini adalah selametan calon haji.

Berangkat jam 17.00 dari pelabuhan Dungkek dan tiba di Giliyang 40 menit kemudian. Karena lumayan besar perjalanan terasa lama bagi saya. Tiba di pelabuhan, 20 motor sudah siap menjemput rombongan. Kali ini rombongan memang sedikit, karena ada sekitar 10 orang yang terpaksa ditinggal berhubung terlambat datang ke pelabuhan dungkek pada saat perahu sudah harus berangkat.

Tiba di rumah kyai Irsono, kami langsung shalat maghrib. Sehabis shalat kami berbaur dengan ratusan para undangan yang akan menyaksikan kyai Irsono pamit mau berangkat ke tanah suci. Diawali dengan sambutan kyai Irsono, sekaligus beliau mohon maaf kepada hadirin, mohon doa, dan pamit, kemudian acara dilanjutkan dengan uraian hikmah haji oleh kyai Mamak, dan dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin ketua Kompolan, Tirmidzi. Habis tahlilan, acara dilanjutkan dengan bincang-bincang santai seputar haji yang diselang-seling dengan shalawat diiringi hadrah al banjari.

Kyai mamak mengurai secara dalam soal haji ini. Tetapi yang paling saya ingat, diantara ibadah lain, ibadah haji merupakan ibadah yang paling diingini oleh muslim, sejak tua hingga anak-anak. Termasuk orang yang sudah naik haji pun masih ingin ke Mekkah lagi. Bahkan keinginannya lebih kuat ketimbang orang yang belum. Tetapi kyai Mamak mengingatkan, kewajiban berhaji hanya sekali. Seperti kebiasaan Kompolan Tera' Bulan, setelah pemantik diskusi selesai dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada tiga orang yang mengajukan pertanyaan menarik, salah satunya tentang haji dan solidaritas sosial. Jam 22.30 bubar, setelah sebelumnya ditutup dengan membaca shalawat dengan berdiri (qiyam) yang dipimpin Ustadz Tirmidzi.

Selesai acara, bersama kyai Mamak, Tirmidzi, Arif dan Taufik (Mahasiswa UGM yang ikut rombongan), Umam dan Sairi (pegiat agraria) bersama warga bergerak menuju spot oksigen. Di sana kami berbincang dengan warga, termasuk Kades Bancamara, Bapak Alwi, tentang masa depan Giliyang yang sekarang sudah jadi destinasi wisata oksigen.

Diskusinya menarik termasuk pemikiran kyai Mamak yang mendesak warga di situ untuk merumuskan pariwisata berbasisi warga. Warga harus jadi tuan rumah,  bukan tamu di pulaunya sendiri. Maka sejak transportasi, catering, homestay, dan cenderamata serta produk lokal lainnya warga lah yang menyediakan dan mengurusinya. Di pulau itu juga harus dijunjung nilai-nilai dan kearifannya, no alcohol, no bikini, dan "no-no" lainnya untuk menjaga keberlanjutan pulau baik secara ekonomi maupun budaya.

Hampir jam 24.00 kami kembali ke kediaman kyai Irsono, tidur semalam di situ, sambil bermimpi tentang Giliyang yang sudah jadi etalase bagi pemodal dan orang-orang kota. Semoga Giliyang ke depan tidak justru mengasingkan warganya sendiri.

Terimakasih kepada warga Giliyang, kapan-kapan semoga kami bisa kembali lagi.

Pulau Garam l 11 Agustus 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar





Setiap kali kaki beranjak ke pulau ini, saya selalu disuguhi perubahan yang begitu cepat. Saya tak harus menunggu 1 tahun untuk menyaksikannya, cukup 1 hari saja di pulau ini  selalu ada yang baru.

Pulau ini memang bukan pulau biasa yang selalu digambarkan sebagai terisolir. Tidak. Di samping karena jaraknya yang sangat dekat dengan daratan, hanya 5 menit nyeberang, sejak 15 tahun terakhir pulau ini telah menjadikan Jakarta sebagai halaman depannya.

Secara ekonomi, warga pulau di sini telah menyaingi daerah-daerah lain di kabupaten saya. Indikatornya begitu mudah dilihat. Rumah-rumah mentereng dengan beragam arsitektur terkini berdiri tegak di pinggir jalan maupun di pedalaman menggantikan rumah-rumah sederhana. Mobil-mobil dengan beragam merk berseleweran di pulau yang untuk berkeliling saja hanya butuh 1,5 jam. Beberapa terdapat mobil mewah (untuk ukuran di kampung) seperti fortuner dan pajero sport. Bahkan sekelas Avanza diledek sebagai mobil tehnisi PLN. Motor anak muda seperti ninja dengan mudah juga bisa ditemui di pulau ini.

Tetapi ibarat hubungan tidak sebanding, Jakarta telah menjadi kiblat yang selalu menjadi rujukan warga pulau di sini,  terutama soal gaya hidup. Jakarta adalah kota satelit yang dicoba dikloning di pinggiran. Intensitas interaksi penduduk di sini dengan penduduk jakarta telah menyulap pulau ini sebagai "jakarta" pinggiran. Sejak cara berpakaian, arsitektur rumah, mobil, cara pandang, makan, termasuk juga kemacetan (di pelabuhan) adalah penanda kejakartaan yang dengan mudah ditemui di sini. Persaingan hidup terutama antara perantau barangkali juga hasil kloning persaingan hidup di Jakarta.

Bagaimana intensitas yang demikian intim  itu bisa dibuktikan? Inilah datanya. Sebuah desa saja di sini sudah "melepas" 2.000-an penduduknya ke Jakarta. Ini belum dari desa lain, karena pulau ini memiliki 8 desa. Bisa dibayangkan bagaimana limbah Jakarta begitu besarnya mengalir ke pulau ini, karena setiap hari orang yang pergi dan pulang dari Jakarta bisa ditemui dengan mudahnya. Bukankah mereka ke Jakarta tidak sekedar pulang bawa uang, tetapi lengkap dengan pandangan hidup orang Jakarta dengan segenap hedonismenya?

Rata-rata mereka bekerja di sektor informal, sebagai pemilik warung klontongan. Ada juga yang menjaga warung yang milik orang lain. Mereka cerdas. Dalam hitungan bulan, bisa 2,3,4,6  bulan hingga setahun mereka pulang untuk kemudian diganti sama saudara, tetangga, atau orang lain. Begitu seterusnya sehingga mereka bisa hilir-mudik secara bergantian, pulang dari dan pergi ke jakarta. Kalau jenuh di Jakarta, hitungan bulan mereka bisa bersantai di kampung.

Di Jakarta mereka bekerja keras. Warung-warung milik orang Madura banyak yang buka 24 jam. Karena yang jaga warung minimal 2 orang, kebanyakan suami istri, mereka bekerja paruh waktu secara bergantian, siang istri, malam suami. Guyonan orang Madura, gimana gak banyak hasilnya jika di kampung mereka kerja, 1 hari di Jakarta jadi --untuk menyebut 24 jam-- 2 hari?

Jika secara ekonomi ditandai oleh perkembangan yang cukup signifikan, secara sosial-budaya justru sebaliknya. Relasi sosial dibangun makin transaksional. Salah satu yang bisa menjadi contoh, bagaimana tradisi seperti "ghebay" (gawe) makin profan dan materialistik. Pengaruh perantauan Jakarta luar biasa sejak makin meriahnya gawe, besarnya perolehan amplop, beras, gula, dsb (di Madura disebut tompangan) yang di pulau ini perolehannya bisa sampai 700 juta hingga 1 miliyar. Hutang yang mungkin tidak terbayar hingga empat generasi.

Hal lain, di pulau ini anak-,anak  besar tanpa kasih sayang yang cukup dari orang tua. Karena merantau, anak-anak seusia TK dan SD harus tinggal dengan kakek-neneknya. Secara materi mereka terpenuhi, misalnya motor dan andorid keren, tapi barang itu tak bisa mengganti kasih sayang orang tua.

Satu lagi, perubahan masyarakat pulau ini terhadap pendidikan. Pendidikan tidak lagi dianggap penting. Sejak lulus SMP/MTs atau SMA/MA mereka sudah memilih merantau karena secara materi lebih menjanjikan. Beda dengan sekolah, mereka beranggapan di samping sekolah menghabiskan banyak biaya, setelah lulus paling juga menganggur.

Saya masih berharap, kondisi seperti saat ini lebih sebagai masa transisi, suatu proses yang biasanya dilalui oleh masyarakat yang sedang mengalami perubahan. Suatu saat, dimungkinkan di pulau ini, Pulau Poteran, mengalami perkembangan sognifikan dalam ekonomi, tapi secara sosial-budaya juga kuat.

Tentu ini butuh kepeloporan, baik yang tinggal di pulau maupun perantauan. Semangat filantropi perlu dibangun bagi perantauan untuk membangun warga pulau yang masih belum beruntung, termasuk mengembangkan lahan dan kekayaan bahari yang saat ini banyak yang terbengkai. Akar pulau ini di samping tani juga nelayan. Semoga.

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 1 September 2017






[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Saya ketika mengisi kegiatan taman baca

Lapa Taman sebuah desa di pojok timur  kabupaten sumenep, diapit oleh desa lapa daya di sebelah timurnya dan lombang sebelah baratnya. Desa ini masuk kecamatan Dungkek, sebuah kecamatan daratan yang posisinya paling timur di kebupaten Sumenep.  Di kecamatan Dungkek terdapat pelabuhan yang menghubungkan dengan pulau-pulau di sebelah timurnya, seperti Giliyang, Sepudi, Raas, dan beberapa pulau lainnya. Menurut kabar pelabuhan ini sedang dijajaki untuk dijadikan pelabuhan internasional.

Posisi Desa Lapa Taman sebelah utara kecamatan Dungkek. Dari kota Sumenep kira-kira 1 jam naik kendaraan bermotor. Desa ini dekat dengan Lombang, desa wisata yang dikenal dengan pantai dan cemara udangnya. Lapa Taman tepatnya sebelah timur desa Lombang atau sebelah barat desa Lapa Dhaje. Desa ini memiliki luas Wilayah ÷= 6. 345 M2 dengan jummlah Penduduk, 2. 211 (data 2015). Sementara mayoritas mata Pencaharian rata rata Petani, Nelayan, dan pedagang.

Desa Lapa Taman sebagaimana saya singgung di awal tulisan, sekarang dijepit dua desa tetangganya, Lombang dan Lapa Dhaje, yang hektaran tanahnya sudah diambil alih investor. Di atas tanah itu setahunan ini sudah dibangun tambak udang. Tentu berdirinya tambak udang berpengaruh kepada warga desa lapa taman, terutama limbahnya.

Tentu yang membahagiakan, meski tanah dua desa tetangganya berhasil "diacak acak" investor, warga Desa Lapa Taman justru menolak investor dan memilih menjaga kehormatan dan kedaulatan tanahnya. Jika ada sebagian tanah yang lepas ke tangan investor, itu milik orang luar desa Lapa Taman yang tanahnya ada di desa Lapa Taman. Kalau warga Lapa Taman sendiri berkomitmen tidak mau tergiur dan melepas tanahnya kepada para investor. Warga desa itu memiliki kesadaran luar biasa bahwa tanah yang mereka tinggali untuk anak cucu, bukan untuk orang asing yang nanti akan menindasnya. Ini kesadaran sejati dari pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam video dokumenter yang diinisiasi oleh pegiat agraria di Sumenep, keapala Desa Lapa Taman, Aburaera, menjelaskan pengalaman warga yang dialami pada masa lalu telah menjadi guru yang sangat berharga. Kesesadaran warga menjaga kedaulatan tanah karena dahulu mereka punya pengalaman, tanah mereka dikuasai oleh pemodal desa lain yang mengolah garam di desa Lapa Taman. Menurutnya, ketika itu untuk menjadi buruh saja orang Lapa Taman harus menyogok kepada pemilik lahan. Bayangkan, sekedar mau jadi baruh saja harus nyogok. Warga Lapa Taman justru diturunkan derajat kemanusiannya di tanah kelahiran mereka sendiri. Apalagi jika tanah mereka "dijarah" investor luar, tentu mereka akan makin sengsara.

Pengalaman pahit yang mereka gumuli akibat alat produksi mereka yang berupa tanah dikuasai orang lain mendorong mereka membeli kembali tanah mereka yang dulu terjual. Semua tanah yang dikuasai orang luar mereka beli kembali.  Kedaulatan tanah akhirnya dibawah kontrol warga kembali. Dan mereka kembali berdaulat di daerahnya sendiri.

Inilah pengalaman yang mereka ingat. Pengalaman yang tak mau mereka alami kembali. Makanya, di desa Lapa Taman tanah-tanah terlindungi dan terjaga hingga sekarang, suatu kenyataan yang sangat kontras dengan desa Lapa Dhaje dan Desa Lombang, dua desa yang mengapitnya, dimana tanah-tanah di dua desa sudah ludes diambil alih investor yang saat ini dialihfungsikan sebagai tambak udang.

Ketika saya dan beberapa kawan pegiat agraria berkunjung ke desa ini, kami ngobrol dengan anak muda dan aparat desa. Suara mereka sama, menjaga kedaulatan tanah. Tanah-tanah mereka masih subur. Di atasnya tumbuh pohon kelapa yang menyumbang bagi kehidupan mereka sehari-hari. Desa ini memang dikenal sebagai pemasok kelapa, termasuk kelapa "kopyor" yang harganya bisa 25-30 ribu perbutir.

Di desa ini juga ada (sisa) tanah perdikan. Jika mengacu pada tradisi Jawa, tanah perdikan adalah tanah pemberian raja kepada tokoh agama untuk melangsungkan pendidikan agama. Tanah perdikan ini dahulu tidak dibebani pajak oleh raja. Tanah ini sekarang dikelola oleh keluarga juru kunci para raja. Kuat dugaan,  Lapa Taman dahulu tempat para santri belajar agama.

Tak jauh dari desa itu, ada asta gurang-garing (syekh mahfudz) yang masih keturunan pangeran katandur (Syekh Baidhowi)  dan masih seketurunan dengan pangeran Paddusan, dimana semuanya masih keturunan Sunan Kudus. Letaknya yang tidak jauh dari laut yang menghubungkan jawa-madura-kalimantan menjadikan desa ini dahulu banyak dikunjungi para perantau yang suku da rasnya berbeda-beda, dan jejaknya bisa dilihat sekarang, yaitu banyaknya makam-makam tua yang jumlahnya barangkali melebihi jumlah penduduknya.

Saya senang, beberapa anak muda dan warga di desa ini juga terlibat dalam gerakan kedaulatan tanah yang saat ini gencar disuarakan anak anak muda di Sumenep. Saat ini mereka sedang menghadapi masalah. Di Desa ini ada bangunan penampung limbah milik perusahaan tambak udang yang dibangun di desa sebelahnya, Lombang.  Aparat desa dan warga desa ini protes. Di samping mengganggu warga, bangunan ini tidak memiliki IMB, ketika membangun juga tidak pernah koordinasi dengan pemerintahan desa, juga tidak mendapat persetujuan warga. Saat ini mereka tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah yang bikin geram warga ini.

Lepas dari masalah yang sedang dihadapi, semoga desa ini tetap damai dan mampu menahan gempuran investor yang terus mengintai tanah-tanah mereka.

Secara tulus, hormat saya buat semua warga Desa Lapa Taman. Merdeka!!!

Pulau Garam I 17 Agustus 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 1 komentar



Setiap kali berjumpa dengan kyai ini, saya terus terang malu. Sebagai seorang yang setengah muda, saya bukanlah apa-apa. Bayangkan, di usianya yang sudah 75 tahunan beliau masih rajin mengaji kepada kyai yang semua usianya di bawah beliau. Setahu saya, beliau mengaji kepada 3 kyai, ada yang setiap minggu, ada yang setiap bulan.

Setiap mengaji beliau naik motor (maaf) butut, merk Honda grand keluaran tahun 90-an. Jarak tempuh tempat mengaji dari rumah beliau bisa 7 hingga 10 km. Beliau naik motor sendiri. Perawakannya yang kecil dibalut jaket sederhana sekedar untuk menahan angin. Semangat mengaji persis santri kelana tempo dulu, menjadikan beliau segar dan sehat.

Ya, itulah KH. Moh Ma'ruf. Saat ini menjabat Rais Syuriah MWC NU Gapura. Beberapa kali beliau mohon ijin untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada yang muda, tapi tak ada satu pun yang mau menggatikannya, selama beliau masih ada. Semoga beliau dipanjangkan umur yang barokah dan diberi kekuatan mengemban tugas ke-NU-an.

Secara pribadi saya mengenal beliau sejak masih MI. Beliau adalah guru saya waktu MI dan MTs. Saya masih ingat, beliau dulu termasuk guru idola. Salah satu yang membekas bagi muridnya, adalah kesabarannya. Beliau tak pernah marah. Siapapun yang memandang wajahnya akan teduh. Karena beliau memang suka senyum. Senyum ketulusan, senyum keikhlasan. Suatu senyum yang memancar dari akhlakul karimah yang menjadi hiasan perilakunya. Apalagi wajah beliau sangat tampan, dengan deretan gigi putih mengkilat yang sangat enak dilihat.

Kepada muridnya beliau selalu menggunakan bahasa madura yang halus. Tak suka bicara jika tidak perlu. Tak pernah mengeluarkan bahasa yang kasar atau menyinggung. Apalagi membully seperti kebanyakan ustadz-ustadz dadakan seperti saat ini. Tak pernah. Jika beliau bersalaman dengan anak muda sekalipun, beliau membungkukkan badan dengan sangat hormatnya.

Keteladanan tu juga yang  beliau praktekkan di lingkungan MWC NU Gapura. Semua pengurus ta'dzim kepada beliau, karena beliau sangat istiqamah mengemban tugas ke-NU-an. Jika ada rapat selalu hadir tepat waktu. Bankan tak jarang, setiap kali rapat beliau membawa snack sendiri untuk diberikan kepada pengurus NU yang hadir di rapat.

Beliau tidak sekedar istiqamah menghadiri rapat-rapat dan pertemuan NU, tapi juga istiqamah mengawal NU yang tantangannya saat ini begitu terasa hingga level kecamatan. Dalam sambutan ketika Harlah NU yang dihadiri pengurus ranting beliau dengan gagah mengajak agar merawat NU sebagai warisan para ulama. Kira-kira mafhum mukhalafahnya, tak perlu mengikuti ormas lain.

Beliau juga sangat perhatian terhadap persoalan agraria yang kebetulan di kecamatan kami tanah sudah banyak yang terjual kepada investor. "VOC dulu datang awalnya mau berdagang. Lama-lama menjajah. Sekarang investor datang untuk menanam investasi, lama-lama tradisi kita dihabisi. Jaga dan jangan biarkan tanah sejengkalpun dijual", dawuh beliau dengan lantang.

Satu hal yang berkesan bagi saya, di balik kelembutannya beliau sangat kuat memegang prinsip. Ketika beliau mengikuti pendidikan di NU, meski usia sudah sepuh, beliau dengan semangat mengikuti pendidikan selama 3 hari 3 malam, dan tak pernah pulang ke rumah beliau. Saya tercengang ketika acara penutupan yang dilakukan outdoor jam 1.30 dinihari dalam suasana hujan deras beliau tidak mau menerima tawaran payung dari panitia. Beliau hujan-hujanan hingga hampir subuh sebagai penanda kegiatan pendidikan selesai. Sungguh kami yang muda malu.

Beliau bulan ini mau berangkat ke Tanah Suci Mekkah, "mengantar" istrinya yang belum haji. Mohon doa, semoga beliau sehat sekeluarga, memperoleh haji mabrur, dan pulang dengan selamat ke tanah air. Kami warga nahdliyin di Gapura masih membutuhkan bimbingan, doa, uswah, dan semangat tak kenal lelah mengurus NU dan warganya.

Pulau Garam l 2 Agustus 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


Saya sering mendengar sebutan "sok paling NU", sok paling Aswaja, sok paling NKRI" yang dialamatkan kepada nahdliyin yang mencoba mendudukkan NU pada khittahnya. Stigma sok ini ingin mendelegitimasi nahdliyin yang mencoba menjadi NU total. Dengan kata lain, stigma sok ini nyasar pada totalitas berNU yang justru dijungkirkanbalikkan maknanya oleh outsider sebagai sikap sombong. Luar biasa stigma ini. Dimainkan untuk membungkam.

Sok berarti mau menang sendiri, merasa paling benar, tak mau mengakui kebenaran lain di luar dirinya. Itu kira-kira pesan yang dikirim outsider atau 1/2 outsider kepada warga nahdliyin yang total berNU. Saya tak sempat buka kamus untuk mengetahui makna sok, cuma yang saya tangkap kira-kira begitu maksudnya.

Dengar stigma ini saya jadi mau tertawa. Bagaimana mungkin nahdliyin dibilang sok hanya karena garang membela NU yang dicatut, dipojokkan, dilecehkan, dsb, sesuai kehendak outsider? Bagaimana mungkin dianggap sok ketika nahdliyin mengajukan wacana tanding atas NU yang diplintir namanya, organisasinya, dan pengurusnya untuk kepentingan outsider?

Tentu jika mau jujur pasti akan jawab tidak. Ibarat seorang pemilik rumah yang garang kepada orang yang meloncati pagarnya, kemudian peloncat pagar menyebut pemilik rumah sok? Begitu? Ya, tidak dung. Ini menyangkut haybah organisasi.

Sekali lagi ini bukan soal sok atau tidak. Ini adalah soal NU yang begitu mudahnya dipreteli, diserang, dan dipojokkan. Jika warga nahdliyin sangat berapi-rapi membelanya ya wajar dong. Karena ini bagian dari ikhtiar berNU sebagaimana dawuh kyai Hasyim Asy'ari, "masuklah ke dalam NU dengan penuh cinta dan kasih.........lahir bathin, bi arwaahin wa ajsaadin".

Kedua, sok paling Aswaja. Setahu saya, orang nu beraswaja tidak sampai mengatakan di luar nu bukan aswaja. Silahkan klaim aswaja itu. Tetapi satu yang perlu diketahui, bahwa sejak dulu NU lah yang memiliki brand itu di saat ormas lain tidak menggunakannya.

Baru belakangan kelompok lain menjadikan Aswaja jadi brandnya, misalnya seperti Laskar Ahlussunnah Waljamaahnya Ja'far thalib umar yang dulu ikut memperkeruh kerusuhan poso. Makanya kemudian NU menambahkan "annahdliyah" di belakang aswaja untuk membedakan dengan aswaja yang lain. Jadi tak ada dalam pandangan bahwa aswaja hanya milik NU, cuma Aswaja di luar NU tidak sama dengan Aswaja annahdliyah. Kecuali bagi kelompok-kelompok yang secara doktrin memang tidak sesuai dengan ciri Aswaja, ya NU tegas. Tetapi tegasnya NU tidak sampai mengkafirkan.

Soal penambahan annahdliyah di belakang aswaja itu akan dipahami jika ditempatkan dalam konteks historis dan sosial-budaya masyarakat Indonesia, dimana Islam menemukan pijakannya yang khas. Salah satunya misalnya tentang penerimaan terhadap pancasila dan keputusan bahwa NKRI final. Atau tentang trilogi ukhuwah; ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Ini yang membedakan aswaja annahdliyah dengan aswaja lainnya, termasuk di negara lain sekalipun.

Jadi, tak ada monopoli tafsir aswaja di sini. Silahkan tafsiri sendiri atau klaim aswaja itu. Cuma ya dimaklumi, aswaja kami dibubuhi tambahan "annahdliyah" di belakangnya. Ini bukan dimaksudkan untuk menutup diri atau ekslusif, tetapi untuk menegaskan bahwa aswaja yang sudah demikian cair maknanya perlu dikentalkan lagi oleh kami dengan kata "annahdliyah", setidaknya kental buat kami tentunya.

Yang terakhir soal "sok paling NKRI". Jawaban atas ledekan ini juga butuh panjang. Tetapi kalau dipersingkat, NU,  meski tak tercatat dalam sejarah resmi yang diajarkan di bangku-bangku sekolah, memberikan saham yang besar bagi tegaknya bangsa ini. Sejak dulu, NU selalu pasang badan dalam mempertahankan bangsa ini. Mulai masa kolonialisme, era transisi kemerdekaan, era Pak Karno, era Orde Baru Pak Harto (meski dipinggirkan), hingga era reformasi bahkan hingga sekarang. Kalau kita baca perjalanan NU, suaranya sama : bangsa ini terlalu mahal untuk dirobohkan.

Jika NU selalu berada di depan ketika bangsa ini sedang menghadapi masalah kebangsaan, tentu harus dilihat dari sejarahnya, ya NU memang begitu. Bagi NU, bangsa ini adalah tenunan indah dimana Islam bisa bersenyawa dengan peradaban Nusantara. Maka lahirlan Pancasila yang membingkai keanekaragaman yang indah. Ini tidak sekali jadi, tapi tenunannya membentang sejak Islam hadir ke Nusantara sejak abad ke 7 dan menemukan puncaknya pada abad 13/14 di tangan para wali songo. Makanya para wali songo dan para ulama setelahnya dijadikan sanad keilmuan, perjuangan, dan harakahnya oleh NU. Di atas sanad inilah NU berjejak, termasuk kegarangannya membela bangsa ini.

Betul bahwa bangsa ini sudah sedemikian akut masalahnya. Di samping banyak gerakan keagamaan yang tak ramah budaya bermunculan, kekayaan bangsa terkeruk habis oleh sistem kapitalisme sebagai anak kandung kolonialisme. Harapan kita, NU ke depan juga wajib garang dan pasang badan terhadap sistem dan ideologi yang rakus dan mencekik rakyat kecil ini. Dengan demikian, "NKRI harga mati" akan makin bergairah dan menyegarkan. Semoga.

Pulau Garam I 19 Juli 2017



[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar


Pagi hari (15/7), sekitar jam 05.00 lewat beberapa menit saya memperoleh Telpon dari HA. Pandji Taufik, ketua PCNU. Ketika saya angkat, suara tangis Pak Pandji pecah, "ngatore oneng KH Ahmad Basyir AS ampon adinggal" ( mau ngasih kabar, KH Ahmad Basyir wafat). Hanya itu yang disampaikan Pak Pandji sambil disertai isak tangis yang begitu jelas saya dengar. Sangat emosional.

Tahu bahwa Pak Pandji begitu sangat berduka, saya tak bertanya kapan jenazah mau dishalatkan. Tak baik memaksa orang yang sangat berduka hanya untuk tahu informasi yang dengan mudah bisa saya peroleh dari kawan lain.

Sejenak saya pun diam. Saya pun tak kuasa menahan gejolak emosi yang mengaduk-ngaduk hati dan pikiran saya. Tangis saya pun pecah. Sambil mencari informasi kapan beliau dishalatkan, pikiran dan perasaan akan kehilangan makin menguat. Seperti ada ruang kosong yang tersisa. Sepi.

Mungkin semua yang pernah jadi santri beliau, pernah bertatap muka dan mencium "asta" ( tangan) beliau, atau sekedar pernah melihat wajah beliau yang teduh dari jauh sekalipun,  tentu akan mengalami perasaan kehilangan seperti saya. Apalagi bagi pengurus NU, kehilangan beliau tentu akan terasa lebih besar.

Mengingat beliau, Ingatan saya menuntun saya pada  kiprah beliau di NU. beliau menjadi Rois Syuriah PCNU Sumenep selama 2 periode, meski periode kedua masih tersisa 3 tahun. Sebelum beliau, Rois Syuriah PCNU Sumenep dijabat oleh KH. Ishomuddin AS, saudara beliau.

2010 beliau terpilih sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep yang pertama, sementara HA. Pandji Taufik sebagai Ketua Tanfidziyah. 2015 beliau terpilih lagi secara aklamasi, meski kondisi kesehatan  sudah semakin menurun beliau masih bersedia menerima keinginan peserta konfrensi NU yang tetap mengingkan beliau sebagai Rois Syuriah. Kebetulan kyai yang lain tak ada yang bersedia selama masih asa Kyai Basyir, suatu bukti bahwa kepemimpinan beliau yang penuh kearifan dan "ngemong" diterima oleh semua kyai. Sami'na wa atha'na.

Saya yang kebetulan menjadi bagian dari pengurus tanfidziyah PCNU Sumenep sering satu majelis dengan kyai Basyir, terutama ketika ada rapat gabungan syuriah dan tanfidziyan. Kebetulan rapat gabungan secara rutin diadakan per triwulan, pindah dari rumah pengurus secara bergantian. Bahkan beberapa kali rapat gabungan dilangsungkan di "dhalem" beliau. Demikian pula ke kegiatan Bahsul Masail yang rutin diadakan setiap bulan, pindah dari satu MWC NU ke MWC NU lainnya, beliau sering hadir di tengah kesibukannya mendidik ribuan para santri di pesantrennya.

Saya menjadi saksi begitu istiqamahnya beliau menjalankan amanah sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep. Beliau menjalankan fungsi keseimbangan dan menjadi rujukan ketika NU harus memutuskan berbagai masalah, termasuk situasi terakhir menyangkut kegaduhan politik di tingkat nasional yang riuhnya sampai juga ke Madura.

Dalam berbagai kesempatan taushiyahnya di rapat gabungan Syuriah- Tanfidziyah beliau seringkali menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat umum misalnya, maraknya pencurian sapi dan masalah keamanan lainnya. Juga taushiyahnya berisi tentang akhlak, termasuk juga akhlak (ber)politik.

Bahkan ketika di Sumenep menghadapi masalah "darurat agraria" beliau meresponnya dengan memberikan taushiyah di hadapan kepala desa se Kabupaten Sumenep di pendopo kabupaten, agar tanah-tanah warga tidak lepas ke tangan investor.

Saya juga menjadi saksi, di tengah kondisi kesehatan beliau yang tidak prima, bahkan terkadang dalam keadaan sakit, beliau masih menghadiri rapat atau Bahsul Masail. Karena faktor itulah beliau biasanya segera pulang setelah memberikan taushiyah kepada pengurus NU.

Mendengar beliau menghadap Allah, saya pun tersentak meski sebelumnya memang beredar berita bahwa beliau dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Sebagai kyai sepuh yang tersisa, wafatnya beliau tentu akan berpengaruh bagi keseimbangan kehidupan masyarakat, termasuk NU, karena beliau sebagai "pakona dunnya" (pakunya bumi) selama hidupnya (terutama kiprahnya di NU) benar-benar telah menjalankan fungsi keseimbangan.


Selamat jalan Kyai...
Kami merindukanmu.

Pulau Garam l 17 Juli l 2017


[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar




Santri saat ini, apalagi yang sudah jadi masyarakat urban, akrab dengan cafe itu sudah biasa. Masyarakat urban yang sudah kehabisan ruang nyaman untuk sekedar ngobrol akhirnya memilih (salah satunya) cafe untuk bisa sekedar mengaktifkan habitusnya sebagai makhluk sosial. Tak terkecuali santri yang urbanized sudah biasa nongkrong di cafe. Apalagi habitus santri memang suka ngobrol, diskusi, debat dari soal yang paling sepele hingga berat. Jadilah cafe ruang nyaman untuk mendesain  obrolan sesukanya, ngobrol ke sana ke mari.

Di Sumenep, saat ini hadir cafe yang juga jadi tongkrongan para santri. Jika Anda masuk ke KancaKonaKopi Anda akan menemukan banyak orang di dalamnya dengan pakaian kebesaran, sarung dan songkok. Itulah salah satu ciri  santri. Sarung, songkok, kopi capucino, latte, pernak-pernik desain interior dan segala penanda kegaulan hadir melebur di cafe itu, seolah sebagai sebuah proklamasi bahwa para santri siap berkontestasi dalam medan pertarungan kebudayaan yang makin banal ini.

Tetapi bukan sekedar itu, cafe ini juga milik para santri. Tepatnya para alumni pesantren besar di Sumenep yang mulai serius menggarap bisnis dengan model koperasi, satu eksprementasi yang menurut saya sangat menarik. Modal membangun cafe ini diperoleh dengan menjual saham kepada kepada para alumni, harga /saham 50 ribu rupiah hingga kemudian terkumpul modal rarusan juta yang digunakan untuk mendirikan cafe.

Semua pengelola termasuk karyawan cafe ini adalah para santri. Pengelolaannya juga patuh pada logika bisnis dengan SOP yang ketat. Ini berbeda dengan kultur santri yang biasanya longgar, santai, dan apa adanya. Meski saya meyakini, managemen modern yang biasanya impersonal di tangan santri Insya Allah hadir termodifikasi lebih humanis.

Saya menyebutnya cafe ini merupakan perlawanan dari pinggir terhadap sistem ekonomi yang sangat neolib saat ini. Ekonomi atau bisnis yang hanya dikuasai pribadi dilawan dengan kepemilikan komunal. Ekonomi yang  mementingkan persaingan, dilawan dengan model "berbagi". Istilah saya, eksperimentasi bisnis santri ini merupakan satu sistem ekonomi yang dilandasi semangat, "kalau sejahtera, ya sejahtera bersama" atau "kalau kaya, ayo kaya bersama-sama". Menarik bukan?

Satu lagi, cafe di tangan santri bukan sekedar tempat nongkrong yang memanjakan hasrat lahiriah. KancaKonaKopi adalah ruang belajar, tempat bertemunya masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tempat bertemunya antara tradisi dan yang kontemporer. Ruang untuk membangun peradaban yang berangkat dari tradisi sendiri, tradisi kesantrian. Maka, tagline yang diusung cafe ini, ", Ngopi, Ngaji, Berbagi".

Kita akan menunggu eksperimentasi cafe ini. Jika berhasil, maka pasti akan memberikan efek domino bagi munculnya bisnis-bisnis lain bagi para santri lain, yang berbisnis tidak atas dasar persaingan, tapi berbagi.

Cuma ya itu, harga kopi bagi saya yang isi kantong pas-pasan masih terlalu mahal. Harapan, nanti ada kopi dan snack yang sesuai dengan kantong para santri, yang kebanyakan memang anak rakyat, rakyat yang meski terhempas di republik ini, tapi tetap tak berniat membangun khilafah.

Selamat buat IAA...Selamat buat KancaKonaKopi dan sang Maestro di belakangnya.

Salam Ta'dzim

Pulau Garam l 30 Juni 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Di awal kepemimpinannya ketika mengganti Anis Baswedan, Bapak Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan yang baru  melontarkan gagasan Fullday School (selanjutnya FDS) yang sempat memantik kontroversi di kalangan masyarakat pendidikan. Di tahun ajaran baru ini FDS akan segera diberlakukan.

Persisnya saya tidak tahu tujuan apakah di balik gagasan ini. Khusnuddzan tetap perlu dikedepankan untuk membacanya, meski sikap kritis juga diperlukan.

Mungkin gagasan FDS dimaksudkan untuk menggembleng para siswa agar waktunya dihabiskan untuk belajar dari pada dihabiskan dengan budaya nongkrong dan keluyuran. Secara substantif tentu ini baik, karena di dalamnya terkandung maksud membangun karakter anak didik misalnya saja karakter tahan banting. Sementara hari sabtu dan minggu diliburkan biar para siswa bisa berkumpul bersama keluarga menyemai interaksi dalam balutan kasih sayang.

Sayangnya, pak menteri pendidikan memunculkan gagasan ini tanpa melihat kultur dan praktik pendidikan di Indonesia yang sangat  beragam. Sehingga ketika diberlakukan secara nasional tanpa pak menteri menyadarinya, ada kelompok masyarakat yang kurang diuntungkan, sebut saja pesantren, madrasah diniyah, dan masyarakat desa.

Lalu, apakah dampak FDS bagi tiga kelompok di atas tersebut? Yang paling sederhana tentu saja gagasan FDS akan menggerus tradisi di masyarakat muslim Indonesia, terutama pedesaan, yang biasa menjadikan waktu sore untuk belajar di madrasah diniyah.

Pada hal tradisi ini sudah mengakar dan dengan mudah bisa ditemukan di masyarakat pedesaan, apalagi di Madura. Tentu sangat sayang, jika tradisi ini hilang begitu saja karena kebijakan menteri pendidikan yang hendak menerapkan FS.

Jika tradisi ini hilang bukan sekedar soal habisnya siswa madrasah diniyah, tetapi juga peradaban terutama yang berhubungan dengan soal agama lambat laun akan punah. Bisa dibayangkan kalau masyarakat sudah kehilangan peradabannya, kebudayaannya, dan tradisinya maka masyarakat sejatinya juga akan kehilangan kehidupannya.

Belum lagi yang paling mengkhawatirkan jika tradisi belajar sore hari di madrasah diniyah dihilangkan, para siswa yang kebetulan tidak belajar di pesantren akan semakin  mudah diracuni model pendidikan keagamaan doktrinal dan instant. Model pendidikan keagamaan yang biasanya dijalankan oleh kelompok keagamaan yang ekstrem yang  abai terhadap kebudayaan nusantara. Dalam jangka panjang dampaknya tentu akan sangat merugikan.

Jika pak menteri mau jujur, FDS tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pesantren. Di pesantren bukan hanya fullday tapi "all day all night". Jika kita mengenal istilah "pembelajar sepanjang hayat atau seumur hidup" ya pesantren tempatnya.

Nah, daripada mengenalkan FDS, kenapa tidak pesantren saja jadikan rujukan pendidikan di Indonesia? Mungkin pertanyaan kayak gini dianggap aneh. Tapi percayalah, dalam amatan saya pendidikan pesantren tetap yang terbaik di negeri ini. Jika banyak orang --mungkin juga pak menteri-- tidak mengakuinya, itu karena mereka tak kenal pesantren.

Di akhir tulisan saya ingin mengatakan gagasan pak menteri, meminjam ungkapan orang Madura, saya bilang, "Puh", satu ungkapan yang biasa digunakan orang Madura ketika melihat sesuatu yang tak berkenan. Maka gagasan pak menteri bagi "puh day school" bukan "fullday School".

Pulau Garam, 16 romadlan 1438 H

ADZ
[ Read More ]